4 tempat yang bisa kamu kunjungi di SALATIGA & SEMARANG

Stasiun Ambarawa

Salatiga adalah salah satu kota kecil yang berdekatan dengan kabupaten Semarang. Salatiga menjadi tujuan terakhir yang mengiringi satu bulan travellingku di bulan Desember 2018 sampai dengan Januari 2019. The last but not least, Salatiga menjadi penutup yang indah dalam perjalanan mencari inspirasi. Aku menghabiskan waktu 2 hari 3 malam di kota yang udaranya sejuk, orang lokal yang ramah-ramah, makanan yang enak sekaligus murah.

Perjalanan untuk sampai ke kota ini, aku mulai dari Jogja. Jogja yang penuh kenangan dan daerah yang akan sering dikunjungi sepertinya. Dari jogja aku menggunakan kereta Paramex tujuan akhir stasiun Solo Balapan. Nah disini, alhamdullilah akhirnya tahu Stasiun Solo Balapan, stasiun ini sangat familiar bagiku karena lagu stasiun solo balapan menjadi lagu yang terkenal. Kereta melaju dengan cepat, suasana di kereta ramai dengan penumpang, duduk berhadapan melewati beberapa stasiun hingga sampai jua di tujuan. Aku memutuskan memakai jalur sky bridge untuk sampai ke Terminal Titonardi. Dengan berjalan kaki kurang lebih 20 menit, kamu bisa melihat pemandangan kota Solo. Kamu bisa lihat penampakan dari sky bridge ini di higlight IGku (:

https://www.instagram.com/stories/highlights/18007292965096214/?hl=id

Sepanjang sky bridge ini sepi, mungkin karena weekdays. Untuk memasuki terminal, kamu harus melewati ruangan bawah tanah, dan saya kagum dibawah ini tersedia mushola dan kamar mandi yang bersih dan banyak juga pedagang yang berjualan. Aku memutuskan untuk istirahat sebentar dan makan siang disini sambil bertanya kepada pedagang bagaimana caranya untuk sampai Solo.  Selepas makan, aku berjalan mengikuti garis kuning, sebenarnya aku kebingungan tapi kutahan dalam hati, kukontrol air mukaku biar tak terlihat polos. Alhasil dengan meyakinkan diri aku berjalan menuju bis bis yang sedang parkir dan pede berjalan dan akhirnya menemukan bis bertulisan SOLO-SMG. Yess I got it ! Aku langsung bertanya pada kondektur apakah bis ini melewati Salatiga dan yes maka kulangsung naik dan duduk di depan. Alasan kududuk di depan supaya aku dapat melihat pemandangan dan tidak tersasar. Bis ini melaju dengan kecepatan yang bisa dibilang wow seperti film fast and furious . Siapin aja diri karena agak sport jantung (hehe). Bis ini gak kenal macet, bunyikan klakson berkali-kali, selap selip meski badannya tidak ramping tapi bisa juga.  Untuk tarif bis dari Solo ke Salatiga sekitar 15 k dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam.  Nah benar jua feelingku, bis ini melaju dengan cepat dan lupa menurunkan aku di tempat yang aku sudah bilang, Beruntung aku melek dan secepat kilat teriak “ Disini pak, disini saya turun”. Hamdallah meski kelewat beberapa meter, alhasil aku sampai di Salatiga. (Plong- Solo Backpaker jilid sekian berhasil 🙂 ).

Aku tunaikan sholat di Masjid Baiturahman, kusempatkan karena melakukan perjalanan ke daerah ini adalah tentang berapa banyak bekas sujudmu yang tertinggal di belahan bumi Tuhan yang lain. Sore itu udara Salatiga dingin, teman baikku menyuguhkan secangkir teh bunga ketelang. Duh mellow tapi sangat menenangkan. Untuk pandangan pertama aku suka kota ini. Aku menghabiskan malam bercengkrama dengan temanku dari berbagai bidang dan aku sangat suka aktivitas berdiskui ini selain memperdalam ilmu, aku banyak mendapat pelajaran dan insight. Malam tiba, kami tidur dan bersiap meyambut pagi keesokan hari.

Pagipun tiba, segelas teh manis dan surabi sudah menyapaku untuk disantap. Kami merencanakan untuk pergi keliling kota Salatiga dengan menggunakan sepeda motor meski cuaca agak agak mendung dan buat galau tak menyurutkan langkah kami bertualang. Oke singkat cerita, di pagi hari aku mengunjungi tempat pacuan kuda, disini banyak sekali orang-orang yang berlatih dan tadaa ada yang foto prewedding juga nih disini. Ternyata pemandangan di belakang pacuan kuda ini langsung berhadapan dengan gunung Merbabu ( Indahnya).

Sumber Mata air Senjoyo

Dari sini, kami melanjutkan perjalanan ke Senjoyo yang merupakan sumber mata air yang sangat jernih di kota Salatiga. Disini ikan-ikan banyak hidup dan menjadi indicator bahwa air ini bebas dari limbah dan baik untuk digunakan. Dari sini kubelajar akan pentingnya merawat alam dengan kearifan lokal yang ada. Kutemukan plang larangan untuk mencuci kotoran ayam di sumber mata air dengan sanksi yang tegas. Yaps, kalau bukan kita yang merawat siapa lagi?. Selepas menikmati jernih dan dingginnya air Senjoyo hujan tiba mengguyur kami, laju motor dipercepat agar sampai lebih cepat di rumah.  Sesampainya di rumah, kami bersihkan diri sambil menunggu gerimis reda untuk bertualang mengelilingi Salatiga.

Setinggil

Hujanpun reda, kami dengan mempersiapkan segala perlengkapan siap meluncur ke kota. Setelah bermotoran selama 40 menit sampailah kami di Mayana Premaculture dan menikmati kuliner di rumah makannya yang bernama Setinggil. Permaculture adalah salah satu kursus tentang bagaimana kita mengatur keseimbangan alam, bagaimana memperlakukan tumbuhan, hewan agar selaras dengan kehidupan manusia. Bagaimana alam telah menyediakan berbagai sumber kehidupan bagi manusia dan sebagainya. Kenapa bisa sampai sini? Karena dulu kami pernah mengambil PDC (Permaculture Design Course) di Bumi Langit Institute dan kebetulan pengajar kami dulu belajar di Mayana. Alhasil kami sangat penasaran untuk melihat dan study tour di Mahayana ini. Bercengkrama, berputar-putar dan tak lupa berfoto disini. Kami menghabiskan kurang lebih 1.5 jam ditempat sini.

Mahayana Permaculture

Tujuan selanjutnya Ambarawa, Ambarawa adalah salah stasiun kereta kuno yang ada di Kabupaten Semarang. Disini terdapat museum kereta api zaman dulu bahkan kita bisa melihat bagaimana loket penjualan, kursi tunggu zaman kereta api dulu. Bahkan kita bisa mencoba menaiki kereta api mesin diesel dengan harga 50 k di stasiun ini. Kereta ini menyambungkan dari stasiun Ambarawa menuju stasiun Tuntang. Di Ambarawa sangat menyenangkan karena imajinasiku langsung membayangkan bagaimana kehidupan nenek moyangku dulu. Bangunan-bangunan bekas penjajahan di sepanjang jalan masih terawat dan dipergunakan menjadi beberapa toko dan kantor. Jika kamu cinta sejarah dan suka yang antik antik kuy kesini.

Salah satu tempat terakhir yang akan kami kunjungi adalah “ Komunitas belajar Qaryah Thayyibah (KBQT)”  yang merupakan sekolah alternatif yang dapat memberikan ruang ekspresi dan inovasi bagi siswa.  Pendiri sekolah ini adalah Pak Bahruddin dan kebetulan kami pernah bertemu dan berdiskusi dengan beliau sebelumnya di Subang. Sehingga mengunjugi komunitas belajar ini menjadi pelengkap pembelajaran sekolah alternatif yang kami dapat dari beliau. Disini kami berjumpa dengan beberapa pengajar,salah satunya yaitu mas Isnain ( beliau menggunakan art untuk memajukan desa dan melakukan pemetaan desa).  Di komunitas ini, aku belajar bahwa siswa dapat lebih meningkatkan dan mengekplore bakat diri lebih dalam sehingga kreatifitas mereka meningkat dengan signifikan. Sore itu, kami menghabiskan waktu bercengkrama dengan siswa KBQT dan sangat mengagumkan salah satu siswa KBQT bisa membuat aplikasi games di Mobile phone dengan bersubtitle English ( Awesome). Sehabis bercengkrama dan karena kota ini sudah sangat mendung dan petanda hujan kami memutuskan untuk bubar barisan dan pulang ke tujuan masing-masing. Dan sampailah kami di rumah  dan beristirahat.

Bersama pengajar dan siswa KBQT

Pagi tiba, aku harus melanjutkan perjalanan menuju Bandara Adisutjipto di Jogja. Dan kamu bisa menggunakan kereta lagi dari Solo yaitu dari stasiun Purwosari menuju stasiun Maguwo Bandara di Jogja. Cukup memakai kereta dan kamu sudah bisa sampai Bandara. Stasiun ini saling menghubungkan satu sama lain. Aku berjalan dan mengamati dulu maskapai yang aku naiki,dan ternyata letak terminal 1 B agak jauh dan kemudian aku berjalan ke luar menelusuri petunjuk dan perdana menaiki maskapai Air asia dan hamdalah sampai Jakarta. Semoga menginspirasi ! Salam Damai (:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *