Ku Temukan Kilauan Cahaya Di Ufuk Timur Indonesia

Malam dipenuhi bintang-bintang yang berkelap kelip, bintang jatuh, bulan yang menerangi lautan, angin pantai yang menerpa wajah, dinginnya agak menusuk ke dalam kulit dan suara ombak terbanting banting yang menerpa tanggul pantai. Tak lupa secangkir teh manis hangat menemani saya duduk di belakang rumah kala itu. Selain itu  rumah warga kini terang dengan adanya lampu-lampu yang menyala dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menerangi Desa. Senja cepat berlalu, lukisan langit sore yang indah itu telah hilang ,malam telah usai lalu pagi mulai menyapa.

Matahari terbit dari ufuk timur mulai menyinari Desa Ulusawa, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan. Desa Ulusawa terletak di Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan (Provinsi Sulawesi Tenggara). Desa Ulusawa merupakan desa yang unik dan juga terpencil karena dibatasi langsung oleh wilayah pegunungan dan pantai yang jarang tersentuh oleh orang luar. Selain itu, untuk menuju desa Ulusawa  terdapat dua cara yaitu menggunakan kapal laonti yang melewati kecamatan atau menggunakan kapal laut melewati Laut Banda. Jika menggunakan cara pertama waktu tempuh untuk sampai di Dermaga Laonti yaitu kurang lebih 4 jam dan dilanjutkan menggunakan ojek selama 20 menit sejauh 7 km. Dan jika melewati Laut Banda waktu yang tempuh sama 4 jam namun kapal tidak setiap hari ada. 

Desa ini terdiri dari tiga zona yaitu zona I, zona II, dan zona III. Zona 1 (Lakomea) terdapat di bagian daratan atas yaitu bagian barat daya dan timur laut yang dibatasi oleh perbukitan atau pegunungan. Zona I ini terdiri dari Dusun I dan Dusun IV. Zona II (Kampung Baru) terdapat di bagian tengah pesisir pantai. Zona  II ini terdiri dari Dusun II. Sedangkan Zona III (Ulusawa Jauh atau Singku) terdapat di bagian ujung pesisir pantai (langsung berhadapan dengan pantai). Zona ini Terdiri dari Dusun III. Zona 1 sering disebut dengan dusun atas sedangkan Zona II dan Zona III disebut Dusun Bawah.

Mayoritas penduduk Desa Ulusawa ini penduduknya adalah suku Tolaki  (Dusun atas) dan suku Buton (Dusun bawah) dan suku lainnya seperti suku Bugis, suku Menui, suku Muna. Perekonomian di desa tersebut kebanyakan bertumpu pada hasil laut (dusun bawah) yaitu sebagai nelayan dan berkebun (dusun atas). Dan sebagian lagi masyarakat harus lebih berjuang, dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sebagai pekerja serabutan. Lantunan Adzan membangunkan masyarakat, suara-suara binatang mulai terdengar dan tak tertinggal suara perkakas ibu-ibu yang membuat kue untuk dijual. Sebelum fajar terbit suara perkakas menjadi pertanda bahwa shubuh akan datang. Anak-anak mulai ricuh, musik, nyanyian mulai terdengar dan tentunya lalu lalang pedagang kue, penjual ikan mulai bersahutan.

Kedatangan aku di Desa ini mendapat sambutan hangat tentunya dari para warga, dari gigitan Lipan di tangan, kalajengking pohon kelapa di kaki dan rumput ilalang yang menempel di celana, dan tak kalah ketinggalan seekor ular pun telah menyapa dengan ramah dipaha saya ketika mencari signal telepon seluler. Hidup di Desa yang dapat bilang tepencil,dibatasi oleh laut dan pegunungan, jauh dari keluarga, jauh dari sahabat untuk bercerita. Tidak sulit hidup disini meski dengan dua bahasa yang berbeda yang saya temui yaitu bahasa Buton dan Tolaki.       

Aku melanjutkan estafet tugas sebagai pendamping masyarakat di bidang PLTS dari teman seperjuanganku yang terlebih dahulu datang ke desa ini. Meneruskan perjuangan itu tidak semudah yang dibayangkan karena nyatanya aku selalu dibandingkan dengan temanku itu dari segi pendampingan. Dan itulah “challenge” menjadi orang pengganti dan aku berusaha melakukan yang terbaik. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Desa Ulusawa berkapasitas 50 Kwp telah melistrik 240 rumah, fasilitas umum, dan juga 49 PJU yang menerangi lampu-lampu jalan dari Dusun atas sampai Dusun Bawah.  

PLTS ini merupakan bantuan pemerintah yang paling sangat dirasakan keberadaanya oleh masyarakat. Sehingga untuk menjaga keberlangsungan PLTS ini dibentuklah Organisasi Masyarakat Setempat (OMS) Desa Ulusawa untuk melakukan pengelolaan dan perawatan. Penerangan di Desa Ulusawa sudah bisa dinikmati, tugas selanjutnya adalah mencari alternatif Energi Terbarukan di Desa yang dapat diaplikasikan untuk pemenuhan kebutuhan energi.  Energi alternatif ini dapat berupa air, angin, biomassa ataupun yang merupakan energi terbarukan.

Hari itu aku pergi ke Dusun atas yaitu Dusun I dan IV untuk melihat potensi Biogas . Dari banyaknya jumlah sapi yang ada di desa, warga yang memiliki sapi memang berada di Dusun Atas. Motorku dihadang oleh beberapa sapi, lalu saya beri klakson berkali-kali akhirnya pergi. Lalu aku singgah di rumah warga, sebelum aku berkeliling melihat sapi-sapi itu. Sore hari selepas mengajar, aku melihat perhatikan sapi-sapi yang berada di lapangan. Dan kini giliran sapi bersikap ramah kepada kepadaku, kakiku malah terjebak kayu ikatan sapi lantas ketika sapi itu berjalan dan seketika kakiku terseret. Untung aku berhasil meloloskan diri dari sapi yang berusaha menyapa itu . Aku tak habis pikir, ada saja kejadian unik-unik itu dan terkadang mengingatnya menyisakan senyuman di wajahku.

Hari demi hari kulalui disana, kadang terasa cepat kadang terasa lambat, kadang merindukan masakan rumah, kadang kangen sinyal internet kencang dan banyak kadang lainnya heheh. Yang membuatku tetap bertahan adalah keyakinanku untuk melakukan perubahan meski sangat kecil namun aku teruskan. Melakukan pemberdayaan membutuhkan waktu lama sehingga wajar saja dalam waktu 6 bulan belum bisa maksimal namun prosesnya tetap berjalan.

 Selama disana aku sangat terbantu lagi dengan kehadiran para bidan dan puskesmas. Aku akrabkan diri karena aku seorang diri pendatang, tak disangka penerimaan mereka sangat luar biasa kepadaku hingga aku dapat melakukan petualangan mencari energi terbarukan ke semua desa di pesisir laonti yang harus melewati ombak timur. Berkat mereka, aku dapat bertualang ke desa-desa jauh yang aksesnya hanya bisa ditempuh dengan kapal laut. Aku melakukannya dengan bergabung dengan program puskesmas keliling sehingga aku pun sedikit sedikit membantu pelaksanaan posyandu ke beberapa desa. Mereka sahabat yang telah menemani perjuanganku disana, aku terharu dan bersyukur Tuhan mengirimkan mereka sebagai malaikat penjagaku.

Bermain air laut,main ke gunung, berlarian di pantai, mengajar sekolah alam, mengitari dusun, bercakap-cakap dengan warga merupakan aktivitas sehari-hari yang kujalani. Nampaknya aku sedang bermain padahal aku sedang observasi, menganalisis hal apa saja yang bisa aku lakukan disana. Setiap malam aku tuliskan pengalaman harian aku, aku evaluasi dan perbaiki keesokan harinya meski target yang terpasang tidak melulu tercapai. Bersama mereka di desa merupakan laboratorium kehidupan bagiku dimana aku bisa belajar dan mendapatkan pengalaman baik dari segi kebudayaan bahkan pengalaman batin. Hari nanti saja ketika aku mengingat pengalaman-pengalamanku aku masih tak percaya bisa mengalami banyak kejadian yang memang tak pernah terpikir di benakku. Misalnya ketika kapal yang aku tumpangi mendadak berhenti di laut, menunggu perbaikan sampai di kapal. Namun sesuatu yang jarang kutemui adalah aku dapat menikmati sunrise di atas kapal di tengah lauh “ Subhanallah”. Ada banyak cara untuk mensyukuri nikmat yang diberikanNya dan selalu ada alasan untuk mengeluhkan apa yang didapat. Begitulah hidup !!

Terkadang kita malas befikir bagaimana membuat orang lain tersenyum padahal itu sangat mudah, bukan?. Salah satunya adalah memberikan senyuman, dan itu senjata yang selalu aku pakai sehari-hari disini. Maka,mana lagi senyuman tulus yang aku dustakan. Melihat mereka tertawa, tersenyum merupakan kado terindah yang tak terlupakan dalam hidupku. Cahaya dari ufuk timur telah menemani perjalananku dengan begitu banyak kepingan puzzle yang indah.  Terimakasih Tuhan karenaMu aku bahagia menikmati indahnya alam semesta Alhamdulilah ……

About the author

A Young girl who believes in: "meeting new friends" means "learning new experiences and knowledge". Born as Sundanese, grew my self many places around West Java till graduated as a bachelor degree holder, I was being involved in VOLUNTEER PROJECT in a rural area. I do love travelling, so curious about other cultures. So, damaydream is my real stories about daily activities, experience, dream and traveling. Overall, people's uniqueness because every single one is UNIQUE in their own way.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *