THE POWER KEPEPET [ Naik kelas dari sepeda kemudian sepeda motor]

Pada tahun 2015 aku ditempatkan di sebuah pulau bernama Pulau Papan. Pulau Papan ini  terdiri dari dua desa yang terletak di Kepulauan Riau. Tidak ada listrik di pulau ini, mereka masih menggunakan pelita ataupun diesel sebagai penerangan.  Hari demi hari aku lalui dengan segala keingintahuan tentang desa ini. Aku bisa simpulkan desa ini merupakan Indonesia bentuk kecil karena disini ada tiga agama saling berdampingan yang tinggal secara harmonis. Ada beberapa tempat ibadah dalam satu desa mulai dari gereja, klenteng dan masjid. Mereka hidup saling berdampingan dan harmonis. Setiap hari raya, mereka saling mengunjungi satus sama lain dan aku menyaksikan langsung hal itu.

Desa ini terdiri dari tiga dusun yang jaraknya berjauhan, untuk mengitari desa ini dengan berjalan kaki akan memakan waktu. Hari demi hari aku mencoba mengunjungi setiap dusun yang ada di desa namun aku hanya sanggup berjalan kaki sampai dusun dua. Selebihnya aku memutar cara bagaima aku bisa sampai ke dusun lain yang lebih jauh. Melihat ada sebuah sepeda di rumah orang tua asuhku dan tidak terpakai,  aku meminjamnya dan berkeliling. Oh yaa, aku tinggal di rumah mak dan ayah yang merupakan suku Melayu. Setiap hari bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu. Desa ini juga dekat dengan Malaysia dengan menggunakan kapal laut sekitar 2-3 jam kamu sudah sampai di Malasyia.

Hari demi hari kutelusuri desa ini menggunakan sepeda, mulai berangkat pagi dengan sebuah ransel menemani perjalanan setiap hariku. Hal-hal yang selalu aku ingat adalah ranselku selalu terisi penuh setelah berkunjung ke rumah warga. Ada saja yang mereka tawarkan dan berikan padaku. Obrolan hari demi hari kucatat dalam buku perjalananku. Apa saja yang kutemui, kudapatkan dan kupelajari. Hal ini juga berguna untuk mendapatkan “ Key person” dari desa. Key Person inilah yang akan membantuku menjalankan program pemberdayaan di Desa karena tidak mungkin terjadi perubahan jika tidak berasal dari kemauan masyarakat itu sendiri. Nah itulah alasan kenapa tiap hari aku harus keluar, mengobrol dan terlihat santai. Padahal dalam hati dan pikiran berkecamuk apa yang harus aku perbuat, apa yang bisa aku berikan kepada mereka atas amanah yang dipercayakan kepadaku sebagai “ seorang patriot”.

Suatu malam sambil meratapi bintang-bintang dan cahaya bulan menerpa air, laut aku duduk di atas genteng sambil menikmati udara malam. Kebetulan rumah orang tua asuhku memiliki rumah berlantai dua, hal ini juga aku lakukan sembari mencari sinyal peradaban yang masuk ke dalam hp (hehe). Ditemani oleh adik-adik asuhku, aku mulai bercerita dengan mereka dan menanyakan apa apa tentang desa ini. Setiap malam ku isi waktuku bersama mereka hanya untuk sekedar mengobrol ataupun belajar dengan mereka. Waktu itu aku sadari aku belum dewasa, aku kadang memarahi mereka jika mereka tidur larut malam dan tidak belajar. Sebenarnya aku marah karena aku sayang adik-adik asuhku.  SIngkat cerita aku mulai menanyakan “ Bagaimana caranya memakai sepeda motor kepada adik asuhku ?”. Kebetulan dia memakai sepeda motor ke sekolah karena jarak dari desa ini ke desa sebelah lumayan jauh yang tidak mungkin berjalan kaki karena akan memakan waktu lama.

Keesokan paginya aku meminta izin kepada orang tua asuhku agar aku bisa belajar sepeda motor. Dan mereka mengiyakan keiinginanku malah mendorongku agar belajar karena melihatku memakai sepeda setiap hari. Aku tunggu adik asuhku pulang dari sekolahnya, lalu aku belajar sore hari menuju petang.  Waktu itu motor yang aku pakai adalah motor yang tinggal kerangka depannya, tidak ada penutup, kemudian untuk menyalakannya perlu menggunakan kaki “ ngengkol”. Dan Ya ampun , susah betul yang namanya “ngengkol” tenagaku seperti tidak ada ( lemah haha) . Jadi setiap sore selama 3 hari aku belajar sepeda motor bersama adik asuhku dia menjelaskan dengan sabar bagaimana menggunakan gigi 1, 2, 3. Lama kelamaan aku mulai mengerti dan aku membonceng adik asuhku secara perlahan dan dia tetap menjaga dan memperhatikan gerakanku. Proses belajar ini tidaklah mudah, satu dua kali aku hampir menabrak bahkan hampir masuk ke dalam selokan ( hahha).

Keesokan harinya lagi, aku diundang untuk bermain ke Dusun tiga namun apa daya letak dusun tiga jauh sekali dengan dusun aku tempat tinggal. Dusun yang aku tinggali berada di bibir pantai sedangkan dusun ke tiga berada di pegunungan. Lalu aku dengan berat hati aku tidak bisa mengendarai sepeda motor kemudian ku berpikir jika masih begini mana bisa ku bergerak cepat dan mobilisasi cepat. Aku teringat pada hari itu, pada saat bersamaan aku harus menemui pekerja pembangunan listrik tenaga surya di dusun dua. Ibu asuhku bilang, pakailah motor sudah bisa kan ? Really karena emak bilang seperti ini tiba-tiba ada suatu keberanian untuk memutuskan membawa motor perdana ke dusun dua . Lalu berangkatlah aku dengan terlebih dahulu pamit. Ngengkol? Sebuah perjuangan untuk bisa hidup mati lagi mati lagi hidup “ adek lelah “ ( haha) . Dalam hatiku berpikir emak bilang ini “ Si Damai gak berangkat-berangkat. Ya?” . Lalu taraa,, keajaiban datang ngengkol berhasil aku meluncur, ku jaga-jaga agar tidak mati itu motor . Then , pas di tanjakan mati jua itu motor. Kutunggu sampai ada orang yang lewat yang akan bantu aku “ ngengkol “. Datanglah pak RT 1 dan membantuku menyalakan dan aku meluncur lagi , yah begitu terus sampai pada beberapa hari aku mulai terbiasa mengengkol meski kadang tidak berhasil.

Aku sering bermain ke tempat teman seperjuanganku supaya aku lancar membawa motor. Satu dua kali mulai berhasil sampai Tuhan memberikan “ Kakak asuhku yang sangat baik “. Kakak asuhku adalah seorang bidan, dia bagaikan cahaya yang datang membantuku. Kami sangat dekat meski kami berbeda keyakinan. Dan berkat kakak ini memberikan pinjaman motornya dengan mudah tanpa diengkol aku bisa mobilisasi dengan mudahnya bahkan kami bekerja sama . Aku akan menemani dia untuk keliling kampung mengobati pasien bahkan aku dan dia pernah mengendarai motor menuju Gunung Papan pada malam hari. Tak jarang kami keluar malam untuk mengobati orang sakit. Dan bagiku ini pengalaman yang sangat menarik bahkan aku sempat menghapal nama obat dan membantu pada pengobatan lansia maupun posyandu. Aku di desa menempatkan diri menjadi apa saja agar bisa diterima dan dekat dengan mereka meski ini membutuhkan proses lama dan karena kakak BIdan inilah aku lebih mudah dan cepat akrab dengan masyarakat.

Pada suatu sore menjelang malam hari pernah aku nekad membawa motor ke desa sebelah . Hal itu lakukan untuk mengetahui bagaimana membawa motor pada malam hari . Tapi sumpah aku gak akan lakuin hal itu lagi, merinding disko karena aku kurang sadar pada waktu jalan yang aku lewati adalah jalan hutan sawit dan jarang orang yang lewat. Itulah pertama kali aku membawa motor “ agar ngebut” karena takut. Sesampainya di Desa sebelah gemetar ( hahha) tapi ya sudah ada hikmahnya begini toh rasanya “melawan ketakutan “ BUT I never try this again for sure . Dengan semangat tinggi dan mulai merasakan rasa betah aku selalu menghabiskan waktu bersama kakak bidan ini, atau kadang jika sedang ada pengobatan rutin aku bisa membawa motonya kemanapun.  Dan FYI sebelum aku mengerti mengisi bensin, aku sering menanyakan pada teman seperjuanganku berapa botol bensin yang perlu dipakai untuk sampai ke desanya. Sebelumnya ku tak mengerti jadi setiap ku jalan aku selalu isi bensin itu (haha). Setiap aku meminjam motor dari orang lain meski dalam jarak dekat karena ku tidak mengerti dan learning by doing itu memang benar, mengertilah aku berapa bensin yang harus kupakai. 

Nah begitulah cerita perjuangaku agar bisa memakai sepeda motor, “The power kepepet “. Jika hari itu pada waktu emak tidak bilang “ pakai saja motor itu” mungkin sampai sekarang belum bisa memakai motor. Terimakasih untuk adik asuhku dan semua orang yang kulibatkan bagaimana aku belajar sepeda motor. Pada tahun 2017 aku juga mulai belajar memakai sepeda kopling karena “ The power kepepet “ lagi. Aku tinggal di daerah suku Dayak dengan topografi pegunungan dan orang tua asuhku hanya punya “ Sepeda motor kopling “ mau gak mau harus bisa dan selama di kota aku mulai belajar dari anak patriot lain dan bisa . Aku belajar di Tanjung batu, Kepulauan Derawan kebetulan bersamaan dengan pertemuan bulanan kami.  Nah resolusi lainnnya ? pengen bisa nyetir  ….. Semoga bisa !!!

Jangan remehkan “ The Power Kepepet” bisa jadi itulah pembuka jalan bagimu untuk bisa dalam sesuatu. Jangan malu bertanya dan belajar. Sekiaaaaaaaaaaaaan —–

About the author

A Young girl who believes in: "meeting new friends" means "learning new experiences and knowledge". Born as Sundanese, grew my self many places around West Java till graduated as a bachelor degree holder, I was being involved in VOLUNTEER PROJECT in a rural area. I do love travelling, so curious about other cultures. So, damaydream is my real stories about daily activities, experience, dream and traveling. Overall, people's uniqueness because every single one is UNIQUE in their own way.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *