Ketika Takbir Islam dan Pujian Kristiani Bergema di Pedalaman Kalimantan

Aku belajar tentang toleransi

Hari itu di tengan keheterogenan warga, Aku warga minoritas tak melenyapkan semangat untuk merayakan lebaran. Lebaran kali ini mungkin memberikan banyak makna kehidupan bagiku karena aku berlebaran di  sebuah mesjid di bagian hilir di pelosok tengah Indonesia. Perjalanan 2 hari 2 malam menyeberang dua sungai, hutan belukar, hutan sawit, jalanan amblas, jalan kaki di tengah hutan berlumpur gelap tak ada penerangan merupakan salah satu deretan perjalanan yang harus aku lewati.

Malam itu Mobil-mobil tak bisa lewat semua. saling bergotong royong. Bermalam di hutan bukan pilihan namun atas KuasaNYa kami lolos dan bisa sampai ke desa Rantau Sentosa. Malam itu aku berdiri di mobil bak penumpang terbuka melihat atas indahnya Bintang malam. Menikmati perjalanan di tengah perut keroncongan sehabis berbuka puasa di tengah hutan Berbuka puasa dengan sekaleng susu, lalu biskuit cukup mengganjal perut Mereka bertanya sudah berbuka? Aku jawab sudah. Kepedulian inilah yang kadang membuar rasa haru membuncah dalm hati. Malam itu pun aku bersorak riang dalam hati karena ku mendengar lantunan ayat suci Alquran. Ada sebuah Mesjid dan PR bagiku untuk mencarinya keesokan hari.

Perjalanan menuju hutan


Selamat Hari Raya Idul Fitri terdengar dari pengeras suara di samping Gereja. 25 Juni 2017 kami umat muslim memang merayakan Hari Raya. Pagi itu 25 Juni 2017. Pukul 4 pagi pendeta mulai memimpin do’a pagi. Letak Rumah yang kutinggali hanya berjarak 3 meter di samping Gereja. Semua masih tidur, aku bergegas mandi karena hari itu adalah Lebaran bagi umat Muslim. Aku tunaikan sholat terlebih dahulu, mencari ruang kosong untuk beribadah, Menjadi Muslim sendiri di tengah-tengah masyarakat Kristen memberikan makna kehidupan tersendiri bagiku. Malam itu aku sudah memberi  tahu orang rumah dimana aku tinggal, aku akan pergi untuk ke Masjid pagi-pagi agar mereka tak mencari aku. Alhamdulilah,ada sebuah masjid di Bagian Hilir, aku berjalan kaki sendiri sebelumnya untuk memastikan keberadaan masjid. Bunyi Takbir malam itu tak terdengar, namun aku bertakbir dalam hati.

Hari Idul Fitri yang berbarengan dengan sembahyang hari Minggu umat kristiani menjadi pelengkap cerita lebaranku. Puji-Pujian terdengar dengan jelas, melewati gereja yang penuh dengan jemaatnya. Aku rindu seketika melihat orang-orang berkumpul dengan keluarga, sedang aku sendiri. Aku rindu ketupat, aku rindu opor ayam lebaran namun aku mengobati rasa rndu itu dengan membeli makanan di warung yang ada di sekitar kampung Desa Rantau.

Sepulang dari masjid Hilir, adik-adikku di Desa Rantau mengucapkan selamat sembari bersalaman. Kak udah gak puasa lagi ? kaka udah bisa makan sekarang? Kakak lebaran kan sekarag. Iyah aku dibanjiri pertanyaan, lalu aku menjawab satu-persatu pertanyaan tersebut dan mereka semua tersenyum dan kami tertawa. Begitu pula-pula dengan nenek. Om, tante, bapak, ibu, abang, kakak Desa Rantau mereka turut mengucapkan dan bersalaman. Aku pun salim kepada mereka sebagai pengganti orang tuaku.  Selepas pulang ke rumah dan bersenda gurau sebentar aku pun mulai mencari secercah sinyal di kampung ini. Lebih dari 70 Tahun Indonesia merdeka, ternyata tak semua warga menikmati listrik, sinyal, jalan yang baik, kadang tidak ada sama sekali  (akan diceritakan nanti). Di Penghujung telepon yang terputus-putus aku kabari mereka bahwa aku baik-baik saja, meski sebenarnya mereka tidak mengetahui bahwa aku berlebaran di Kampung ini. Hal ini untuk mencegak kekhawatiran mereka. Alhamdulilah semua baik,semua senang, dan berkumpul di Rumah asalku kampung Garut.

Aku pun pulang dan mulai mengikuti kegiatan bersama mereka, tertawa, bercengkrama melihat acara “Pekenoq Tawai” di Desa Rantau Sentosa Kutai Timur. Pekenoq Tawai adalah festival seni dan budaya Suku Dayal Lepoq Jalan Se-Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Untuk menuju desa ini. membutuhkan dua hari perjalanan melewati sungai, dua kali, hutan- hutan. Jalanan rusak, licin tidak ada aspal, tidak ada listrik (Inilah Indonesia di bagian lain). Aku sempat kaget ada Kampung jauh nan di pelosok sini, dengan segala keterbatasan yang ada. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mungkin belum semua merasakannya, aku hanya bersyukur atas apa yang aku punya sekarang, atas nikmat perjalanan dan pengalaman yang luar biasa.

Pada akhirnya kita akan berkata pada Tuhan, Terimakasih atas anugerah dan kesempatan yang luar biasa untuk menikmati indahnya perbedaan ini, melihat seni dan budaya Indonesia yang sangat luar buasa bersama orang-orang luar biasa dijalannya. Ketika kita memang ditempa menjadi pribadi yang lebih baik. Boleh jadi sekarang ada rasa aneh, mungkin rasa aneh itu yang akan berbuah rasa rindu. Layaknya dua orang yang sedang saling menyesuaikan sering kali terjadi pergolakan batin, namun seiring berjalannya waktu titik temu itulah yang akan menyatukan. Bersatu bukan harus selalu sama. Namun berbeda dengan segala sikap menghargai dan menghormati yang dibalut rasa kepedulian dan tentunya rasa Cinta. Karena Tuhan pun mengajakan kita untuk berbuat baik tanpa mengenal agamamu apa,sukumu apa. Just Do it //

Kutai Timur, 26 Juni 2017

Perbedaan itu indah ketika kita mampu membingkainya dengan warna yang indah

About the author

A Young girl who believes in: "meeting new friends" means "learning new experiences and knowledge". Born as Sundanese, grew my self many places around West Java till graduated as a bachelor degree holder, I was being involved in VOLUNTEER PROJECT in a rural area. I do love travelling, so curious about other cultures. So, damaydream is my real stories about daily activities, experience, dream and traveling. Overall, people's uniqueness because every single one is UNIQUE in their own way.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *